Sragen (Humas) – MTsN 2 Sragen menghadapi penilaian Adiwiyata pada Senin (22/9). Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi seluruh warga madrasah untuk menunjukkan berbagai upaya dalam mewujudkan lingkungan madrasah yang bersih, sehat, hijau, dan berkelanjutan.
Adiwiyata merupakan program yang mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah atau madrasah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Melalui program ini, sekolah atau madrasah diharapkan mampu membangun perilaku peduli dan berbudaya lingkungan sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan.
Menghadapi penilaian tersebut, MTsN 2 Sragen telah melakukan berbagai persiapan dan pembenahan di lingkungan madrasah. Berbagai aspek lingkungan menjadi perhatian, mulai dari kebersihan, sanitasi, drainase, pengelolaan sampah, keanekaragaman hayati, konservasi air, hingga konservasi energi. Selain itu, terdapat penilaian untuk inovasi madrasah, berupa karya ilmiah dan galeri seni. Upaya tersebut melibatkan seluruh warga madrasah, baik guru, tenaga kependidikan, maupun para murid.

Kepala madrasah, Umartono, menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam penilaian Adiwiyata tahun ini menjadi langkah penting bagi madrasah untuk terus membangun budaya peduli lingkungan.
“Akhirnya di tahun ini kita maju Adiwiyata. Harapan kami, semoga dengan bimbingan dari seluruh tim penilai menjadikan madrasah kami lebih hijau, bersih, dan sehat. Semoga bisa berkelanjutan. Kami, 65 guru dan tendik, serta 858 murid siap nyengkuyung keberhasilan Adiwiyata. Semoga ini membawa hasil terbaik,” ungkap Umar.
Menurutnya, semangat Adiwiyata tidak semata-mata ditujukan untuk menghadapi penilaian, tetapi diharapkan dapat menjadi bagian dari budaya dan kebiasaan seluruh warga madrasah dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Nur Hidayati, dari tim pembina dan penilai Adiwiyata Kabupaten Sragen, memberikan apresiasi atas berbagai upaya yang telah dilakukan MTsN 2 Sragen. Nur berharap seluruh proses yang telah dilalui menjadi bagian dari amal baik dan dapat terus dipertahankan setelah penilaian selesai.

“Semoga lelah Bapak Ibu jadi lillah. Sudah menanam, menjaga kebersihan, semoga ke depannya menjadi amal jariyah Bapak Ibu dan seluruh warga madrasah. Semoga kebiasaan baik ini bisa jadi pembiasaan seterusnya,” tutur Nur.
Nur Hidayati juga mengingatkan agar berbagai sarana dan prasarana yang telah disiapkan tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan penilaian atau perlombaan. Lebih dari itu, lingkungan dan fasilitas yang tersedia diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran peserta didik.
“Ke depannya, sarana prasarana panjenengan bukan hanya untuk lomba, tetapi juga media pembelajaran murid. Terima kasih Bapak Ibu dan seluruh murid sudah mengusahakan yang terbaik untuk Adiwiyata ini,” lanjutnya.
Nur juga menekankan bahwa keberhasilan dalam program Adiwiyata tidak berhenti pada pencapaian penghargaan. Menurutnya, tantangan yang lebih besar adalah menjaga dan mempertahankan budaya peduli lingkungan yang telah dibangun.
“Meraih juara itu mudah, yang susah mempertahankannya. Mohon pembiasaan yang sudah berjalan dengan baik ini dijaga. Mengenai juara, apapun hasilnya, ini yang terbaik untuk madrasah panjenengan,” pesannya.
Penilaian Adiwiyata di MTsN 2 Sragen diharapkan menjadi momentum untuk semakin memperkuat budaya peduli lingkungan di kalangan seluruh warga madrasah. Dengan dukungan 65 guru dan tenaga kependidikan serta 858 peserta didik, berbagai program lingkungan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penilaian, tetapi terus tumbuh menjadi kebiasaan dan karakter warga madrasah.
Melalui semangat bersama, MTsN 2 Sragen berkomitmen mewujudkan madrasah yang tidak hanya hijau dan bersih, tetapi juga sehat, nyaman, serta mampu menjaga keberlanjutan lingkungan sebagai bagian dari proses pendidikan. (zhr/enn)










