Sragen (Humas) – MAN 3 Sragen kembali menunjukkan komitmen tinggi dalam membangun budaya kesadaran keselamatan lingkungan melalui penyelenggaraan kegiatan tanggap darurat yang komprehensif, Selasa (22/9). Acara edukatif berbalut pelatihan praktis ini difokuskan pada dua materi krusial yang kerap menjadi ancaman di lingkungan permukiman, yaitu teknik penanganan satwa liar berupa ular yang masuk ke area hunian manusia serta mitigasi penanganan kebakaran akibat kebocoran tabung gas kompor.

Guna memastikan standar keilmuan dan teknik penyelamatan yang aman serta profesional, pihak madrasah menggandeng lembaga rescue berpengalaman, yakni Merona 757 Rescue. Unit penyelamatan darurat ini berkedudukan di wilayah Sambirembe, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang secara kelembagaan diinisiasi oleh CV Merona Jaya Abadi berkolaborasi sinergis dengan Yayasan Puspa Rona Warna. Kehadiran tim penyelamat profesional di tengah lingkungan madrasah memberikan warna baru pembelajaran kontekstual yang langsung, nyata, dan mendebarkan bagi para peserta.

Rangkaian acara diawali dengan sesi rescue satwa liar yang memusatkan perhatian pada skenario penemuan ular di sekitar rumah. Pemateri utama dari Merona 757 Rescue, Adi, memandu peserta untuk mengenali karakteristik perkakas rumah tangga yang dapat difungsikan secara darurat namun efektif.
“Evakuasi ular bisa dilakukan menggunakan sapu dan serok, botol plastik, serta toples,” ujar Adi di hadapan para peserta yang menyimak dengan penuh seksama. Sesi teori ini tidak berhenti di ruang paparan, melainkan langsung ditindaklanjuti dengan sesi praktik nyata di mana siswa-siswi MAN 3 Sragen bergantian mencoba langsung teknik memasukkan ular ke dalam toples secara terkendali dan sesuai prosedur keselamatan satwa.

Tidak hanya teknik evakuasi fisik satwa, materi dilanjutkan dengan penanganan medis darurat apabila terjadi insiden gigitan ular beracun maupun tidak beracun di lingkungan sekitar. Seringkali masyarakat panik dan melakukan tindakan keliru yang justru membahayakan nyawa korban. Menanggapi hal tersebut, Adi secara tegas meluruskan mitos dan prosedur medis lapangan.
“Penanganan luka gigit ular tidak boleh dihisap dan tidak boleh ditali pakai tali, tetapi bisa menggunakan alat bidai darurat berupa kardus dibentuk kotak lalu ditali dan korban dimiringkan,” jelas Adi kepada peserta pelatihan guna mencegah penyebaran venin atau racun serta menjaga jalan napas korban tetap aman.
Agenda puncak yang tidak kalah penting dan menarik perhatian seluruh peserta adalah sesi simulasi mitigasi kebakaran rumah tangga, khususnya akibat kebocoran dan penyulutan api pada tabung gas kompor. Atmosfer aula mendadak berubah tegang namun penuh antusiasme ketika simulasi penanganan darurat api dimulai. Pada sesi ini, suasana menjadi makin interaktif saat guru, tenaga kependidikan, dan siswa melebur menjadi satu untuk ikut serta secara langsung memadamkan titik api simulasi.

Dalam bimbingan teknis pemadaman tersebut, Adi menekankan prinsip psikologis dan mekanis yang wajib dikuasai penolong. “Intinya tidak boleh panik dan bisa menggunakan tangan langsung untuk menutup selang tabung gas atau handuk basah dan pastikan tidak ada oksigen yang masuk supaya api mati,” terang Adi sambil mendemonstrasikan gerak cepat menutup sumber kebocoran atau mengisolasi suplai udara agar api padam seketika tanpa ledakan susulan.
Keterlibatan aktif para pendidik dan tenaga kependidikan bersama para siswa dalam simulasi ini mencerminkan semangat kolaboratif dalam membangun lingkungan kerja dan belajar yang aman (safe school environment). Melalui penyelenggaraan simulasi langsung penanganan satwa liar dan darurat api ini, MAN 3 Sragen sukses membekali seluruh warga madrasah dengan kecakapan hidup (life skills) darurat yang sangat aplikatif untuk dibawa pulang ke keluarga dan lingkungan masyarakat masing-masing. Bekal pengetahuan taktis ini diharapkan mampu meredam kepanikan massal, meminimalisasi risiko kecelakaan fatal akibat salah penanganan gigitan ular, serta mencegah kerugian material maupun korban jiwa akibat musibah kebakaran rumah tangga di masa mendatang. (sns/enn)










