Sragen (Humas) – MTsN 2 Sragen menghadirkan permainan tradisional Sunda Manda sebagai bagian dari kegiatan kokurikuler pada Senin (22/9). Permainan yang diinisiasi oleh murid madrasah tersebut menjadi salah satu upaya menghadirkan aktivitas yang menyenangkan sekaligus mengenalkan kembali permainan tradisional di lingkungan madrasah.
Memanfaatkan lahan di sekitar taman madrasah, arena sederhana permainan Sunda Manda dibuat dan dimanfaatkan sebagai ruang bermain bagi warga madrasah. Keberadaan permainan tersebut mendapat sambutan positif. Secara bergantian, murid memanfaatkan waktu istirahat untuk bermain bersama teman-temannya.
Tidak hanya murid, sejumlah guru juga turut mencoba permainan Sunda Manda. Guru dan murid tampak berbaur dalam suasana santai dan penuh keceriaan. Kehadiran guru dalam permainan tersebut membuat interaksi antara guru dan murid menjadi lebih dekat. Sesekali terdengar tawa dan sorak dukungan ketika peserta berhasil melewati setiap petak permainan.
Suasana tersebut menunjukkan bahwa permainan tradisional dapat menjadi sarana membangun kebersamaan di lingkungan madrasah. Guru tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga ikut terlibat dan memberikan contoh bahwa aktivitas positif, permainan, serta pelestarian budaya dapat dinikmati bersama.
Sunda Manda merupakan permainan tradisional yang dilakukan dengan melompat menggunakan satu kaki pada pola bidang yang telah dibuat. Selain menyenangkan, permainan ini dapat melatih keseimbangan, koordinasi gerak, konsentrasi, kesabaran, serta sportivitas.
Kehadiran Sunda Manda menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan karakter melalui pengalaman langsung. Murid belajar menghargai teman, menaati aturan, menunggu giliran, menjaga sportivitas, serta membangun kebersamaan. Sementara itu, keterlibatan guru menjadi contoh nyata bahwa nilai-nilai tersebut dapat diterapkan bersama dalam kehidupan madrasah.

Kepala MTsN 2 Sragen, Umartono, mengapresiasi kreativitas dan inisiatif murid dalam menghadirkan permainan tradisional di lingkungan madrasah.
“Saya mengapresiasi kreativitas dan inisiatif anak-anak. Permainan sederhana seperti Sunda Manda ternyata bisa menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Di sini anak-anak belajar bekerja sama, menghargai teman, mengikuti aturan, dan mencintai budaya kita. Guru juga bisa ikut bermain sehingga hubungan antara guru dan murid semakin dekat. Inilah semangat kokurikuler, belajar tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata,” ungkapnya.
Menurut Umartono, pemanfaatan lahan di lingkungan madrasah untuk kegiatan positif juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Madrasah diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang bagi murid dan guru untuk tumbuh, berinteraksi, serta mengembangkan potensi.
Salah satu murid MTsN 2 Sragen, Ismail, mengaku senang dengan adanya permainan Sunda Manda di lingkungan madrasah.
“Seru karena bisa bermain bersama teman-teman saat istirahat. Lebih seru lagi ketika guru juga ikut bermain. Jadi suasananya lebih ramai dan menyenangkan. Kami juga belajar bergantian dan mengikuti aturan permainan,” ujarnya.
Kehadiran Sunda Manda menjadi contoh sederhana bahwa kegiatan kokurikuler dapat dikemas melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan murid. Permainan tradisional tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi media pembelajaran karakter, interaksi sosial, pelestarian budaya, dan penguatan nilai-nilai cinta. (zhr/enn)







