Sragen (Humas) – Mengenakan pakaian ihram, melantunkan talbiyah, dan mengikuti setiap tahapan manasik dengan penuh antusias. Begitulah suasana yang mewarnai kegiatan latihan manasik haji MTs Negeri 5 Sragen di Miniatur Qolbu Boyolali, Kamis (27/8/2026). Sebanyak 320 murid kelas IX didampingi para guru mengikuti kegiatan tersebut sebagai bagian dari pembelajaran praktik untuk mengenal lebih dekat rangkaian ibadah haji dan umrah.
Bukan sekadar belajar teori di ruang kelas, para murid diajak seolah-olah melakukan perjalanan spiritual menuju Tanah Suci. Setiap tahapan ibadah dipraktikkan secara langsung dan terarah. Mulai dari memahami tata cara ihram, thawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara Safa dan Marwah, hingga simulasi rangkaian ibadah di Armuzna. Para murid juga dikenalkan dengan gambaran pelaksanaan salat Arbain di Masjid Nabawi, sehingga pengalaman belajar menjadi semakin utuh dan bermakna.
Kepala MTsN 5 Sragen, Muhsin, menyampaikan bahwa latihan manasik haji merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan madrasah setiap tahun. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman pembelajaran keagamaan kepada murid agar mereka tidak hanya memahami ibadah haji secara konseptual, tetapi juga mengetahui rangkaian pelaksanaannya.
“Kegiatan latihan manasik haji ini rutin kami laksanakan setiap tahun. Hal ini untuk memberikan pembelajaran kepada murid tentang rangkaian ibadah haji, sehingga mereka tidak hanya memahami secara teori, tetapi juga mengetahui bagaimana praktik pelaksanaannya,” ungkap Muhsin.
Antusiasme murid terlihat sepanjang kegiatan. Dengan mengikuti arahan pembimbing dan guru pendamping, mereka menjalani setiap tahapan manasik dengan tertib. Ada yang dengan penuh kesungguhan mengikuti prosesi thawaf, ada yang bersemangat mempraktikkan sa’i, dan ada pula yang menyimak penjelasan tentang makna setiap rangkaian ibadah. Pembelajaran pun terasa lebih nyata karena murid berada di lingkungan yang menghadirkan gambaran suasana ibadah di Tanah Suci.
Miniatur Qolbu Boyolali dipilih sebagai lokasi kegiatan karena menyediakan lingkungan pembelajaran yang mendukung simulasi berbagai rangkaian ibadah haji dan umrah. Melalui suasana tersebut, murid dapat belajar secara kontekstual dan memperoleh pengalaman yang lebih mudah dipahami serta diingat. Apa yang sebelumnya mereka pelajari melalui buku dan penjelasan guru kini dapat dipraktikkan secara langsung.

Namun, manasik haji bukan semata-mata tentang mengetahui urutan pelaksanaan ibadah. Di balik setiap tahapan, tersimpan nilai-nilai pendidikan karakter yang sangat penting. Murid belajar tentang kedisiplinan, kesabaran, ketertiban, kemandirian, kebersamaan, kepedulian, tanggung jawab, dan ketakwaan. Mereka belajar bahwa ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik, mental, ilmu, sekaligus kesungguhan hati.
Bagi MTsN 5 Sragen, kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar madrasah dalam menghadirkan pembelajaran keagamaan yang lebih nyata, bermakna, dan menyentuh pengalaman peserta didik. Pendidikan agama tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diupayakan hadir dalam bentuk pengalaman yang dapat membentuk sikap dan karakter murid dalam kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 320 murid kelas IX pun pulang membawa pengalaman yang berbeda. Mereka mungkin belum benar-benar berada di depan Ka’bah, belum merasakan suasana Masjidil Haram, dan belum menapakkan kaki di Masjid Nabawi. Namun, melalui manasik ini, mereka telah belajar mengenal perjalanan menjadi seorang tamu Allah.
Hari ini mereka belajar melalui simulasi. Semoga kelak Allah benar-benar memanggil mereka untuk menunaikan ibadah haji dan umrah ke Tanah Suci. Dari Miniatur Qolbu Boyolali, terpatri sebuah doa dan harapan: semoga langkah kecil hari ini menjadi awal perjalanan menuju Baitullah. (ma/dpw/enn)







