Sragen (Humas) – Bagi sebagian orang, air bersih mungkin hanya tinggal membuka keran. Namun, bagi warga Desa Galeh, Grengseng, dan Gondang, mendapatkan air yang layak digunakan bukan perkara mudah. Bahkan, di Galeh, air sumur yang tersedia terasa asin hingga tidak diminum oleh ternak.
Kondisi tersebut menjadi perhatian MTsN 5 Sragen. Selama tiga hari, 17–19 September 2026, keluarga besar MTsN 5 Sragen menyalurkan tujuh tangki air bersih kepada masyarakat di tiga wilayah yang mengalami kesulitan air bersih di Kecamatan Gesi dan Tangen.
Bakti sosial tersebut sekaligus menjadi pembelajaran nyata bagi murid bahwa kepedulian kepada sesama tidak cukup hanya dipelajari di dalam kelas, tetapi perlu diwujudkan melalui aksi nyata.
Penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap. Pada Kamis (17/9), bantuan air bersih disalurkan ke Desa Galeh RT 02. Hari kedua, Jumat (18/9), bantuan diberikan kepada warga Grengseng RT 04 dan RT 05, Poleng, Kecamatan Gesi. Sementara pada Sabtu (19/9), penyaluran dilanjutkan ke Gondang RT 05 dan RT 06, Kecamatan Tangen.
Bagi warga Galeh, persoalan air bukan karena tidak memiliki sumur. Persoalannya, air yang tersedia justru memiliki rasa asin sehingga sulit dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Air Ada, tetapi Tak Bisa Dimanfaatkan
Sutrisno, Ketua RT 02 Desa Galeh, mengungkapkan bahwa bantuan air bersih dari MTsN 5 Sragen sangat membantu masyarakat. “Sumur sebenarnya ada, tetapi air yang dihasilkan rasanya asin. Diberikan kepada sapi untuk diminum saja tidak mau, apalagi manusia,” tutur Sutrisno.
Tidak berhenti pada persoalan air minum, air tersebut juga menimbulkan masalah ketika digunakan untuk mandi. Menurut Sutrisno, air terasa lengket sehingga membuat warga tidak nyaman. Bahkan, ketika digunakan untuk menyiram tanaman, tanaman justru dapat mati.
“Jadi, betul-betul bantuan air yang diberikan ini sangat bermanfaat bagi warga Galeh,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa berartinya air bersih bagi masyarakat yang hidup dalam kondisi kekeringan. Bagi mereka, satu tangki air bukan sekadar bantuan, tetapi menjadi kebutuhan yang langsung digunakan untuk menopang kehidupan sehari-hari.
Sudah Membuat Sumur, Air Tak Kunjung Keluar
Kesulitan mendapatkan air bersih juga dirasakan warga Desa Grengseng. Kepala Desa Grengseng menyampaikan bahwa masyarakat telah berupaya mencari sumber air, termasuk membuat sumur. Namun, usaha tersebut belum membuahkan hasil karena air tidak kunjung keluar.
Kondisi itu membuat bantuan air bersih dari MTsN 5 Sragen menjadi sangat berarti. Kehadiran tujuh tangki air selama tiga hari diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan warga sekaligus menjadi bentuk kepedulian madrasah terhadap masyarakat di wilayah yang terdampak kekeringan.
Ada pelajaran penting yang ingin ditanamkan MTsN 5 Sragen melalui kegiatan tersebut. Para murid tidak hanya diajak menyaksikan kesulitan masyarakat dari jauh, tetapi turun langsung untuk berbagi.
Murid Turun Langsung Belajar Arti Empati
Murid yang terlibat merupakan perwakilan dari OSIM, PMR, Dewan Penggalang (DP), Jurnalistik, dan Rohis. Mereka membantu pelaksanaan kegiatan sekaligus melihat secara langsung kondisi masyarakat yang harus berjuang mendapatkan air bersih.
Kepala MTsN 5 Sragen, Muhsin, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari edukasi kepada murid untuk membangun kepedulian sosial.
Menurutnya, murid perlu belajar berempati kepada sesama dan peduli terhadap lingkungan. Salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan adalah menggunakan air secara bijaksana karena air merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga.
Bakti sosial tersebut pun menjadi ruang belajar yang berbeda. Murid dapat melihat secara langsung bahwa persoalan air bersih bukan sekadar materi yang dibicarakan, tetapi realitas yang dihadapi masyarakat di sekitar mereka.
Tujuh Tangki Air, Ribuan Makna Kepedulian
Selama tiga hari, tujuh tangki air bersih mengalir dari MTsN 5 Sragen menuju wilayah yang membutuhkan. Namun, lebih dari sekadar jumlah tangki, kegiatan tersebut membawa pesan tentang pentingnya berbagi dan peduli.
Dari Galeh, Grengseng hingga Gondang, para murid belajar bahwa tidak semua orang memiliki akses air bersih semudah yang mereka rasakan sehari-hari. Mereka juga belajar bahwa kepedulian dapat dimulai dari hal sederhana: berbagi ketika ada yang membutuhkan dan menggunakan sumber daya alam dengan penuh tanggung jawab.
Kepala MTsN 5 Sragen berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan apabila terdapat wilayah lain yang mengalami kekeringan dan membutuhkan bantuan air bersih.
Bakti sosial itu pun meninggalkan pesan sederhana, tetapi mendalam: ketika air menjadi sulit didapat, setetes air adalah kehidupan; ketika kepedulian diwujudkan, sekecil apa pun bantuan dapat menjadi harapan. (ma/dpw/enn)











