Sragen (Humas) — Kementerian Agama Kabupaten Sragen menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Kinerja dan Pengendalian Pegawai bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun non-ASN, baik dari instansi negeri maupun swasta, pada Selasa, 27 Januari 2026. Kegiatan yang diikuti oleh 2.674 pegawai Kemenag, baik ASN maupun non-ASN, ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama Republik Indonesia ke-80.
Acara yang digelar di GOR Diponegoro Kabupaten Sragen berlangsung meriah dan khidmat. Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah pentas Tari Saman yang dibawakan oleh siswa-siswi MTsN 5 Sragen. Tarian ini ditampilkan sebagai tari penyambutan atas kedatangan Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Saiful Mujab.
Dengan gerakan yang kompak, dinamis, dan penuh energi, para penari menampilkan harmoni yang memukau. Tepuk tangan, gerakan tangan, serta perubahan tempo yang cepat menunjukkan kekompakan dan kedisiplinan para siswa, sehingga berhasil menghidupkan suasana sejak awal acara.
“Tari Saman merupakan tarian tradisional yang berasal dari Aceh, tepatnya dari wilayah Gayo, dan dikenal sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Tarian ini biasanya ditampilkan secara berkelompok dengan posisi duduk berbaris, mengandalkan kekompakan gerak, tepukan tangan, dan lantunan syair bernuansa nasihat, dakwah, serta nilai-nilai keislaman”, tutur Yutanti, pembina tari Saman.
Kata Saman diyakini berasal dari nama Syekh Saman, seorang ulama yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Gayo. Melalui Tari Saman, pesan-pesan moral seperti kebersamaan, disiplin, kerja sama, dan persatuan disampaikan secara harmonis melalui gerak dan irama.

Penampilan Tari Saman oleh siswa-siswi MTsN 5 Sragen tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mencerminkan peran madrasah dalam melestarikan budaya nusantara serta menanamkan nilai karakter kepada peserta didik. Hal ini sejalan dengan semangat Kementerian Agama dalam membangun generasi yang religius, berbudaya, dan berkarakter.
Kehadiran seni budaya dalam kegiatan pembinaan pegawai ini menjadi simbol bahwa sinergi antara pendidikan, budaya, dan pelayanan keagamaan dapat berjalan selaras. Diharapkan, penampilan tersebut mampu menginspirasi seluruh peserta untuk terus menumbuhkan semangat kebersamaan dan profesionalisme dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat. (ma/enn)








