Sragen (Humas) – Wujudkan lingkungan pendidikan yang bersih dan sehat, Madrasah Aliyah Negeri 3 Sragen menggelar sosialisasi serta simulasi langsung mengenai bahaya merokok dan penyalahgunaan narkoba pada hari kedua Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA), Selasa (14/7). Kegiatan ini diikuti oleh peserta didik baru dengan antusias di area serambi madrasah guna mendukung realisasi program Madrasah Senyaman (Sehat, Nyaman, dan Aman).
Guru Biologi MAN 3 Sragen sekaligus pemateri, Fachri Ulil Albab, menyatakan bahwa pemahaman preventif sejak dini sangat krusial agar para remaja tidak terjerumus pada perilaku negatif yang merusak masa depan. Langkah ini menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter dan penegakan tata tertib disiplin kemadrasahan.
“Melalui simulasi langsung ini, kami ingin anak-anak menyaksikan secara langsung bahwa merokok itu merusak tubuh secara nyata,” ujar Fachri saat mendemonstrasikan eksperimen dampak asap rokok menggunakan media botol plastik dan kapas bersama perwakilan siswa baru yang ditunjuk untuk mengenakan jas laboratorium.
Kapas putih yang berada di dalam botol seketika berubah warna menjadi kuning pekat akibat noda tar dari asap rokok yang diisap secara mekanis dalam simulasi tersebut. Visualisasi nyata ini berhasil memberikan syok terapi edukatif bagi seluruh siswa baru agar mereka berkomitmen penuh menjauhi rokok serta narkotik, psikotropika, dan zat adiktif (narkoba).
Selain aspek kesehatan fisik, materi sosialisasi ini juga mengupas tuntas dampak buruk penyalahgunaan narkoba dari sudut pandang hukum dan masa depan akademik siswa. Pemateri menjelaskan secara rinci bagaimana zat adiktif dapat merusak jaringan saraf otak secara permanen, menurunkan konsentrasi belajar, hingga memicu tindakan kriminalitas di kalangan remaja.
Pihak madrasah menegaskan bahwa penegakan tata tertib akan dilakukan secara ketat dan tanpa kompromi bagi siapapun yang melanggar aturan terkait kawasan tanpa rokok. Regulasi ini bukan bertujuan untuk mengekang ruang gerak siswa, melainkan sebagai instrumen perlindungan untuk memastikan seluruh warga satker dapat belajar dengan aman dan nyaman.
Melalui pendekatan preventif yang kreatif dan interaktif seperti ini, diharapkan nilai-nilai kedisiplinan kemadrasahan dapat melekat erat di dalam sanubari setiap siswa baru. Dengan demikian, proses adaptasi lingkungan madrasah tidak hanya berfokus pada pengenalan fisik akademis, tetapi juga pada pembersihan mental dan pembentukan akhlakul karimah. (sns/enn)










