Sragen (Humas) – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Sragen kembali menunjukkan eksistensi dan komitmennya dalam mendukung program keagamaan nasional. Pada Kamis (16/7), MAN 3 Sragen sukses menyelenggarakan sosialisasi Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat: 1.448K Rashdul Qiblat Tahun 2026. Kegiatan edukatif yang berlangsung di lingkungan madrasah tersebut diikuti oleh ratusan siswa, jajaran guru, serta pegawai setempat. Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya menyukseskan gerakan kalibrasi arah kiblat secara massal di Indonesia.
Kegiatan edukatif ini sengaja menggandeng Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kalijambe sebagai mitra strategis madrasah. Hadir sebagai narasumber utama dalam acara ini adalah Penyuluh dan Penghulu KUA Kalijambe, Muslih dan Fahmi. Keduanya memberikan pemaparan kepada warga madrasah terkait pentingnya akurasi arah kiblat melalui ilmu falak praktis. Pemaparan tersebut bertujuan membekali para peserta dengan metode pengukuran arah kiblat yang mudah dan aplikatif.
Dalam penyampaian materinya, Muslih dan Fahmi menjelaskan secara detail mengenai urgensi momentum Rashdul Qiblat atau fenomena istiwa a’dzam. Fenomena alam ini terjadi ketika posisi matahari tepat berada di atas Ka’bah. Momen tersebut menjadi sarana paling akurat, alamiah, dan mudah bagi umat Islam untuk memverifikasi arah kiblat secara alami. Proses ini dapat dilakukan di lokasi masing-masing tanpa memerlukan bantuan alat digital yang rumit.
Pihak KUA Kalijambe menekankan bahwa penentuan arah yang presisi merupakan bagian krusial yang menyangkut keabsahan dan kekhusyukan ibadah salat umat Muslim. Oleh karena itu, akurasi pengukuran di lapangan menjadi sangat penting untuk dipahami oleh seluruh masyarakat sejak dini. Pemahaman ilmiah dasar ini diharapkan mampu mencegah terjadinya kesalahan arah fasilitas ibadah di lingkungan sekitar. Lingkungan pendidikan formal dinilai menjadi lokasi paling strategis untuk memulai penyebaran edukasi falak praktis tersebut.
“Momentum Rashdul Qiblat ini adalah kesempatan emas bagi kita semua untuk mengukur ulang arah kiblat secara presisi hanya dengan memanfaatkan bayangan benda tegak lurus yang disinari matahari,” ujar Fahmi.
Melalui sosialisasi ini, pihak madrasah berharap para siswa tidak hanya sekadar menjadi objek edukasi di dalam kelas. Mereka diproyeksikan mampu menjadi agen informasi yang membawa pengetahuan praktis ini kepada keluarga di rumah. Selain itu, para siswa juga dapat membagikan informasi tersebut ke lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing. Penyebaran ilmu yang luas ini diharapkan dapat memberikan manfaat syariat bagi masyarakat umum secara berkelanjutan.
Sebagai bentuk aksi nyata, seluruh siswa dan guru MAN 3 Sragen langsung melakukan pendaftaran titik koordinat lokasi rumah mereka. Pendaftaran dilakukan secara mandiri pada portal resmi Indonesia Berkiblat melalui laman indonesiaberkiblat.kemenag.dev. Langkah digital ini merupakan wujud partisipasi aktif warga madrasah dalam menyukseskan gerakan sejuta titik kiblat nasional.

Saat fenomena alam tersebut berlangsung, pada Kamis (16/7) pukul 16.27 WIB, para peserta akan melakukan pengukuran mandiri langsung dari rumah atau madrasah. Hasil pengukuran berupa bukti dokumentasi foto tersebut wajib mereka unggah ke portal resmi Indonesia Berkiblat. Setelah proses verifikasi dokumen dan foto selesai, para siswa serta guru akan mendapatkan sertifikat elektronik resmi. Sertifikat tersebut diterbitkan langsung oleh Kementerian Agama (Kemenag) sebagai apresiasi atas kontribusi nyata dalam gerakan nasional ini.
Kolaborasi yang apik antara MAN 3 Sragen dan KUA Kalijambe ini membuktikan bahwa institusi madrasah selalu hadir dan responsif terhadap syiar agama yang aplikatif. Dengan bekal ilmu dari sosialisasi ini, warga madrasah kini siap menjadi agen penggerak di masyarakat untuk memastikan kesempurnaan arah fasilitas ibadah, baik di lingkungan sekolah maupun di tempat tinggal masing-masing. (sns/enn)









