Sragen (Humas) — Peringatan Hari Pendidikan Nasional di MTsN 2 Sragen berlangsung khidmat dan penuh makna dengan diikuti oleh seluruh guru, pegawai, serta siswa, Sabtu (2/5). Upacara yang digelar di halaman madrasah ini tampil berbeda dari biasanya. Para guru dan pegawai mengenakan busana adat Jawa berupa lurik, lengkap dengan blangkon bagi laki-laki dan jarik untuk perempuan, menambah nuansa kearifan lokal dalam peringatan tersebut.
Bertindak sebagai inspektur upacara, Kapolsek Kecamatan Tanon, Priyatno, menyampaikan amanat yang mengacu pada pesan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam rangka Hardiknas.
Dalam amanat tersebut ditegaskan pentingnya kolaborasi seluruh elemen pendidikan untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan karakter peserta didik.
“Pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk karakter, kedisiplinan, serta sikap saling menghargai,” ungkap Priyatno.

Usai pelaksanaan upacara, kegiatan dilanjutkan dengan pembinaan dari Kapolsek kepada seluruh siswa. Dalam arahannya, Priyatno mengajak siswa untuk senantiasa menaati aturan madrasah dan menghormati guru sebagai orang tua di lingkungan sekolah.
“Ayo taati aturan madrasah, hormati bapak dan ibu guru. Tingkatkan semangat belajar kalian demi masa depan yang lebih baik,” pesannya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membangun budaya anti perundungan di lingkungan madrasah. Siswa diajak untuk menjadi generasi yang berani bersikap benar dan tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
“Kalian harus menjadi siswa anti perundungan. Jangan merasa lebih baik dari orang lain, karena setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kuncinya adalah disiplin dan berani jika kalian berada di pihak yang benar,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala MTsN 2 Sragen, Umartono, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Umar menegaskan bahwa keberanian merupakan salah satu karakter penting yang harus dimiliki oleh setiap siswa.
“Siswa yang berani adalah siswa yang kuat. Berani dalam kebaikan, berani berkata jujur, dan berani menolak segala bentuk perundungan,” ungkapnya.
Menurutnya, perundungan dapat berdampak serius terhadap perkembangan mental dan sosial siswa. Oleh karena itu, seluruh warga madrasah diharapkan dapat saling menjaga, menghargai, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman serta nyaman.
Peringatan Hardiknas tahun ini menjadi momentum penting bagi madrasah untuk tidak hanya mengenang jasa para pahlawan pendidikan, tetapi juga memperkuat komitmen dalam membangun karakter siswa yang berakhlak, disiplin, dan peduli terhadap sesama. (zhr/enn)







