Sragen (Humas) — MTsN 5 Sragen menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) selama dua hari, 26–27 Juni 2026. Mengusung tema “Mewujudkan Madrasah yang Humanis, Religius, dan Berkarakter melalui Pembelajaran Berbasis Cinta”, kegiatan ini diikuti seluruh guru sebagai upaya memperkuat kompetensi pendidik dalam menghadapi tantangan pendidikan di era perkembangan teknologi.
Pelatihan dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sragen, Fatchur Rochman. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kurikulum akan terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Menurutnya, implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang digagas Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menjadi langkah strategis untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih humanis dan bermakna.
“Kurikulum akan terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, proses pembelajaran diharapkan berlangsung secara humanis sehingga mampu melahirkan peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. Manfaatkan pelatihan ini sebaik-baiknya. Jangan berhenti pada teori, tetapi praktikkan dalam pembelajaran di kelas,” pesannya.
Kepala MTsN 5 Sragen, Muhsin, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen madrasah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penguatan kompetensi guru.
“Pelatihan ini menjadi salah satu ikhtiar MTsN 5 Sragen untuk meningkatkan mutu guru sehingga mampu menghasilkan peserta didik yang berkarakter, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman,” ujarnya.
Pelatihan menghadirkan narasumber utama Amelia Tauresia Kesuma, Tim Pengembang Kurikulum Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah sekaligus anggota tim penyusun soal Asesmen Kompetensi Guru (AKG) dan Tes Kompetensi Akademik (TKA).
Dalam sesi yang berlangsung interaktif, Amel mengajak peserta membangun growth mindset sebagai landasan menjadi guru pembelajar yang terus belajar, berinovasi, dan menghadirkan pembelajaran berbasis cinta.
Ia menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis cinta tidak sekadar menciptakan suasana kelas yang nyaman, tetapi juga menumbuhkan kesadaran belajar dalam diri peserta didik. Dengan pendekatan tersebut, siswa didorong belajar karena memahami makna setiap proses yang dijalani, bukan semata-mata karena takut pada aturan atau mengejar nilai. Melalui cara inilah madrasah diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berkarakter.
Selain memperkuat pemahaman konsep, peserta juga dibimbing menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang selaras dengan prinsip Kurikulum Berbasis Cinta agar proses pembelajaran semakin bermakna sekaligus mendukung penguatan karakter peserta didik.
Narasumber kedua, Juair, selaku Ketua Tim Pengembang Kurikulum Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, memberikan penguatan terkait implementasi Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025. Ia memaparkan berbagai kebijakan terbaru yang menjadi acuan pelaksanaan kurikulum di madrasah beserta strategi implementasinya di satuan pendidikan.
Selama dua hari pelaksanaan, pelatihan berlangsung interaktif melalui diskusi, kolaborasi, dan praktik penyusunan perangkat pembelajaran. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan sehingga pelatihan tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mendorong guru untuk terus berinovasi dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas.

Melalui pelatihan ini, MTsN 5 Sragen meneguhkan komitmennya dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai fondasi pembelajaran yang humanis, religius, dan berkarakter. Madrasah berharap seluruh guru mampu menerapkan hasil pelatihan dalam proses belajar mengajar sehingga lahir generasi yang cerdas, berakhlak mulia, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta mampu menjadi teladan di tengah masyarakat. (ma/dpw/enn)








