Sragen (Humas) — Dalam rangka memperingati Milad ke-30, MAN 2 Sragen tidak hanya merayakan usia dengan seremoni, tetapi juga menghadirkan karya yang bernilai literasi dan refleksi batin. Seluruh warga madrasah—guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik—berkolaborasi menghasilkan sebuah buku antologi puisi bertajuk “Tiga Dekade Rintisan Air Mata Bercahaya”.
Antologi puisi ini merupakan hasil dari program “Mandusra Berpuisi”, sebuah gerakan literasi yang mengajak civitas MAN 2 Sragen menuangkan rasa syukur, kenangan, harapan, dan perjalanan madrasah dalam bentuk puisi. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud perayaan Milad yang bermakna, reflektif, dan inspiratif.
Kepala MAN 2 Sragen, Joko Triyono menyampaikan bahwa buku ini bukan sekadar kumpulan kata, tetapi rekam jejak emosional dan spiritual perjalanan madrasah selama tiga dekade. “Puisi-puisi ini lahir dari hati warga madrasah. Ada air mata perjuangan, doa, harapan, dan cahaya optimisme untuk masa depan MAN 2 Sragen,” ungkapnya.
Buku antologi ini memuat puluhan karya puisi dengan tema “Madrasahku Bergema”, yang ditulis secara orisinal dan dikurasi hingga memenuhi standar penerbitan. Setiap puisi merepresentasikan suara personal namun berpadu menjadi harmoni kolektif tentang MAN 2 Sragen sebagai rumah belajar dan rumah nilai.
Waka Kurikulum MAN 2 Sragen, Abdul Ghofur menambahkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan penguatan budaya literasi madrasah. “Kami ingin Milad ke-30 ini meninggalkan jejak intelektual dan kultural. Literasi bukan hanya membaca, tetapi juga menulis dan merawat rasa,” tuturnya.
Antologi “Tiga Dekade Rintisan Air Mata Bercahaya” diharapkan menjadi dokumen sejarah kultural madrasah sekaligus inspirasi bagi generasi selanjutnya. Karya ini menegaskan bahwa MAN 2 Sragen tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga subur dalam kreativitas dan kepekaan sastra.
Milad ke-30 MAN 2 Sragen pun menjadi penanda bahwa madrasah terus bertumbuh: berkhidmat, berprestasi, dan menginspirasi—dengan kata, rasa, dan cahaya. (rgl/enn)








