Sragen (Humas) – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan, MTsN 2 Sragen melaksanakan kegiatan pengajian Ramadan yang bertempat di Masjid Al Abror Tegalsari pada Sabtu (14/2). Kegiatan ini diikuti oleh para siswa, guru, serta mendapat dukungan dari pengurus takmir masjid dan masyarakat sekitar.
Wakil Takmir Masjid Al Abror Tegalsari, Nardi, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan MTsN 2 Sragen yang telah memanfaatkan fasilitas desa untuk kegiatan pengajian. Ia juga berpesan kepada para orang tua agar terus membimbing anak-anak dalam kebaikan.
“Mohon bapak ibu selalu nggretehi anak-anak agar semakin menjadi anak-anak yang saleh dan salehah. Saya mengucapkan terima kasih karena telah berkenan memanfaatkan fasilitas desa untuk kegiatan pengajian ini,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Kepala Madrasah bidang Humas, Nur Rochmah, menyampaikan informasi seputar kegiatan dan program madrasah selama bulan Ramadan. Ia berharap pengajian ini dapat menjadi sarana sinergi antara madrasah, keluarga, dan lingkungan masyarakat dalam membentuk karakter religius peserta didik.
Tausiyah pengajian disampaikan oleh Soliqul Anwar yang mengulas berbagai hal penting terkait persiapan ibadah Ramadan. Ia mengingatkan pentingnya menyelesaikan hutang puasa bagi yang masih memiliki tanggungan. “Bagi laki-laki tidak ada keringanan sebagaimana perempuan. Hutang puasa wajib ditunaikan,” tegasnya.
Selain itu, Soliqul juga menjelaskan beberapa hal yang dapat membatalkan puasa, salah satunya merokok. Ia menekankan bahwa Ramadan merupakan bulan Al-Qur’an dan mengajak para siswa untuk memanfaatkan waktu dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an.
“Meski libur madrasah, jangan justru digunakan untuk tidur lebih lama. Perbanyak membaca Al-Qur’an karena Ramadan adalah bulan Al-Qur’an,” pesannya.
Dalam tausiyahnya, Soliqul turut mengingatkan agar umat Islam tidak mengikuti tradisi nonmuslim yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman, seperti perayaan Hari Valentine. Ia menegaskan bahwa tujuan utama ibadah Ramadan adalah tazkiyatun nafsi, yaitu mensucikan diri, sehingga ketika memasuki bulan Syawal, umat Islam diharapkan kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan.
Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya saling mengingatkan dalam keluarga. Menurutnya, sikap durhaka kepada orang tua dapat terjadi ketika seseorang membiarkan keluarga atau saudaranya terjerumus dalam perbuatan maksiat, padahal dalam keluarga seharusnya saling menasihati.
Kegiatan pengajian ditutup dengan sesi tanya jawab berhadiah bersama para siswa yang berlangsung meriah dan penuh antusias. Seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan ajakan untuk menyambut bulan Ramadan dengan rasa suka cita dan kegembiraan. (zhr/enn)








