Sragen (Humas) – Gemuruh suara terbang dan lantunan selawat dari grup Hadrah MAN 3 Sragen menyambut pagi di basemen madrasah, Sabtu (17/1/2026). Ratusan siswa berseragam rapi duduk bersila, menyimak rangkaian peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dikemas dengan napas muda bertajuk “Menembus Batas dengan Iman ala Gen Z”.
Kepala MAN 3 Sragen, Mariyo, menyampaikan bahwa tema “Menembus Batas” sengaja dipilih untuk memotivasi siswa agar berani berinovasi dan berprestasi di tingkat global, namun dengan catatan tetap memiliki landasan iman yang kokoh.
“Kami ingin melahirkan lulusan yang secara intelektual menembus batas, namun secara spiritual tetap tunduk pada perintah Allah. Kyai Fathurrohman memberikan perspektif yang sangat masuk akal bagi logika anak muda kita hari ini,” tuturnya.
Peringatan ini menjadi ruang dialogis untuk membedah kembali peristiwa perjalanan spiritual Rasulullah dalam konteks kekinian. Kehadiran Kyai Fathurrohman sebagai pemberi tausiyah memberikan materi mendalam mengenai bagaimana generasi digital tetap bisa “menginjak bumi” di tengah ambisi yang melangit.
Dalam tausiyahnya, Kyai Fathurrohman menekankan bahwa inti dari peristiwa Isra Mi’raj adalah perintah salat lima waktu. Salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sebuah instrumen bagi Gen Z untuk menjaga kesehatan mental dan integritas diri di era digitalisasi.
“Gen Z saat ini hidup dalam dunia yang tanpa batas karena internet. Semua bisa ditembus. Namun, manusia tanpa pembatas akan kehilangan arah. Salat adalah pembatas sekaligus penguat itu,” ujar Kyai Fathurrohman di hadapan para siswa.
Fathurrohman juga menambahkan bahwa salat adalah momen “mi’raj” bagi setiap mukmin. Jika Rasulullah menembus langit ketujuh untuk bertemu Sang Pencipta, maka siswa MAN 3 Sragen diajak untuk menembus batas ego dan rasa malas mereka melalui sujud. “Di saat dunia menuntut kalian untuk terus tampil di layar, salat menuntut kalian untuk kembali pada diri sendiri dan Tuhan,” imbuhnya.
Acara yang berlangsung hingga menjelang siang ini ditutup dengan doa bersama. Pesan utama yang tertinggal bagi para siswa adalah setinggi apa pun teknologi yang mereka kuasai dan sejauh apa pun mereka mengejar mimpi, salat tetap menjadi jangkar yang menjaga mereka agar tidak terseret arus zaman yang kian tak menentu.
Melalui kegiatan ini, MAN 3 Sragen berupaya membuktikan bahwa pendidikan agama di madrasah tidak harus terasa kaku, melainkan bisa menjadi inspirasi yang segar dan solutif bagi tantangan hidup generasi masa kini. (us/enn)







